Peringati Hari Santri, Keluarga Besar Nadhiyin Dukuh Pakis Gelar Nobar Film "Sang Kiai"
SURABAYA, seputarberitasurabaya.com – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, keluarga besar Nadhiyin bersama warga sekitar di Dukuh Pakis, Surabaya, menggelar acara nonton bareng (nobar) film “Sang Kiai”. Kegiatan yang sarat nilai sejarah dan edukasi ini berlangsung khidmat di Masjid Baitulsholihin, Jalan Kalikendal VI No. 34, Dukuh Pakis, Surabaya, pada Sabtu (07/11/2026) malam, tepat selepas shalat Isya hingga selesai.
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yalal Wathon, Jumbareka, dan Mars Hari Santri yang dipandu oleh Ibu Muslimat. Suasana semakin khusyuk dengan pelaksanaan istighosah yang dipimpin oleh Ustad Sulfie, disusul dengan sambutan dari Ketua Tanfidziyah dan Ketua MWC setempat.

Puncak acara seremonial ditandai dengan Mahalul Qiyam, pembacaan Ikrar Santri, dan doa bersama. Setelah rangkaian tersebut usai, acara dilanjutkan dengan inti kegiatan, yaitu pemutaran film “Sang Kiai” yang disaksikan secara antusias oleh warga sekitar dan seluruh keluarga besar Nadhiyin Dukuh Pakis.
Film “Sang Kiai” mengisahkan perjuangan ulama Nusantara, khususnya KH Hasyim Asy’ari (diperankan oleh Ikranagara), pada masa penjajahan Jepang tahun 1942. Saat itu, tentara Jepang melarang pengibaran bendera Merah Putih, melarang lagu Indonesia Raya, dan memaksa rakyat Indonesia melakukan *Seikerei* (membungkuk ke arah utara untuk menghormati Kaisar Jepang).

KH Hasyim Asy’ari menolak tegas praktik *Seikerei* karena tindakan tersebut dinilai menyimpang dari akidah Islam, di mana umat Islam hanya boleh menyembah Allah SWT. Akibat sikap berani ini, beliau ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang, mulai dari penjara di Mojokerto hingga dipindahkan ke Surabaya.
Film ini juga menyoroti peran santri KH Hasyim Asy’ari, Harun (diperankan oleh Adipati Dolken), yang menghimpun kekuatan santri untuk melakukan demonstrasi menuntut pembebasan sang kiai. Namun, upaya perlawanan fisik tersebut sempat menelan korban berjatuhan di kalangan santri.
Sejarah mencatat, melalui diplomasi yang dilakukan oleh putranya, KH Wahid Hasyim, bersama KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Hasyim Asy’ari akhirnya berhasil dibebaskan. Para ulama kemudian menerapkan strategi taktis dengan bekerja sama secara terbatas dengan Jepang untuk memperkuat barisan kaum muslimin dan mempersiapkan kemerdekaan, salah satunya dengan mendirikan Laskar Hizbullah.

Semangat perjuangan ini mencapai puncaknya pada 22 Oktober 1945, ketika KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa legendaris Resolusi Jihad. Fatwa tersebut menyatakan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya adalah *fardlu ‘ain* (wajib bagi setiap Muslim). Fatwa inilah yang membakar semangat juang para santri dan rakyat dalam Pertempuran 10 November di Surabaya.
Melalui kegiatan nobar ini, keluarga besar Nadhiyin berharap nilai-nilai perjuangan, keteguhan akidah, dan cinta tanah air yang diteladankan oleh para kiai dapat terus tertanam dan diwariskan kepada generasi muda di lingkungan Dukuh Pakis dan sekitarnya. (FERIANDO)
